Kota Banjarmasin, adalah ibu kota Propinsi Kalimantan Selatan. Sedang
Banjarbaru adalah kota baru yang didirikan dan direncanakan sebagai Pusat
Pemerintah Propinsi Kalimantan Selatan. Dari status pemerintahan, kota
Banjarbaru adalah salah satu kota dari 13 kota/ kabupaten yang ada di Propinsi
Kalimantan Selatan. Saat ini umumnya kantor-kantor
pemerintahan propinsi telah berlokasi di Banjarbaru, sedang Pusat Perdagangan
dan Bisnis lebih banyak di Banjarmasin. Kota Banjarmasin dikenal sebagai “Kota Seribu Sungai” karena terdapat
sedikitnya 25 buah delta (pulau-pulau kecil yang dipisahkan oleh
sungai-sungai).
Berikut adalah pengalaman kami mengunjungi beberapa objek wisata di
Banjarmasin dan Banjarbaru.
Perjalanan ke Banjarmasin dimulai dengan take-off dari Bandara Sukarno-Hatta
Cengkareng pada pukul 06.00 WIB , dengan
waktu perjalanan 90 menit, maka kami landing di Bandara
Syamsudin Noor menjelang pukul 09.00
Wita. Lokasi Bandara Syamsudin Noor sendiri terletak di Banjarbaru yang
berjarak sekitar 25 km dari Banjarmasin.
Mesjid Sultan Suriansyah
Perjalanan kami dimulai dengan berangkat dari Banjarbaru tempat kami
menginap pada pukul 04.00 dinihari, mengingat salah satu objek wisata terkenal
yang akan kami kunjungi adalah pasar terapung yang kegiatannya dimulai sejak
pukul 05.00 pagi dan mulai akan
berangsur sepi pada pukul 07.00 pagi.
Setelah perjalanan dengan mobil selama sekitar 30 menit, kami tiba di
mesjid Sultan Suriansyah yang berlokasi di tepi sungai Kuin. Mesjid tersebut mempunyai bangunan yang
berarsitektur tradisional Banjar dan dibangun oleh Sultan Suriansyah (1526
-1550), dan merupakan salah satu mesjid yang tertua di Banjarmasin.
Pada
tepian Sungai Kuin di sekitar lokasi Mesjid tersebut banyak terdapat pangkalan
atau dermaga Klotok (perahu mesin) yang dapat disewa untuk perjalanan menyusuri
sungai di sekitar kota Banjarmasin. Saat
tiba di mesjid tersebut tepat berkumandang azan subuh, dan kamipun sholat subuh
dan langsung naik Klotok memulai perjalanan menyusuri Sungai
![]() |
| Masjid Sultan Suriansyah |
Hari masih gelap, menjelang pukul lima pagi, ketika Klotok yang kami sewa
bergerak sepanjang Sungai menuju lokasi Pasar Terapung. Namun ternyata selain
kami cukup banyak juga Klotok-klotok lain yang disewa oleh wisatawan sama-sama
bergerak dari “dermaga-dermaga” di
sekitar lokasi tersebut menuju ke Pasar
Terapung. Pemandangan menelusuri sungai
cukup menarik dengan pemandangan kota yang masih gelap, serta berseliwerannya
Klotok, perahu, bahkan kapal yang berlayar
di Sungai , dengan lampu yang masih dinyalakan.
Sekitar
pukul 5.30 kami tiba di lokasi pasar terapung. Disana telah cukup banyak para
pedagang dan pembeli yang berseliweran dengan perahu-perahu kecil , serta
klotok berbagai ukuran. Barang-barang yang diperdagangkan bervariasi mulai dari
hasil bumi, sayuran, buah-buahan, serta makanan-makanan, termasuk makanan dan
minuman matang. Keadaan di pasar
terapung tersebut lebih meriah dengan berseliwerannya klotok-klotok yang disewa
oleh para wisatawan, dengan berbagai ukuran , mulai klotok ukuran kecil dengan penumpang sekitar 7-8 orang, sampai
ukuran besar yang ditumpangi sampai puluhan orang
![]() |
| Pasar terapung |
![]() |
| Perahu Klotok berseliweran |
Pulau Kembang, Hunian Kerajaan Kera
Pukul 06.30 cuaca mulai terang dan sebagian para pedagang dan pembeli
mulai meninggalkan lokasi Pasar
Terapung. Para pedagang tersebut
berangkat menuju daerah-daerah sepanjang sungai untuk melanjutkan
perdagangannya, sehingga biasanya
setelah jam 7.30 keramaian Pasar Terapung akan berkurang. Demikian juga
Klotok-klotok para wisatawan mulai bergerak
ke tempat lain. Dalam perjalanan kembali ke dermaga di dekan mesjid
Sultan Suriansyah, melewati sebuah
Pulau yang dikenal sebagai Pulau
Kembang. Pulau Kembang terkenal karena
pada pulau tersebut terdapat ribuan ekor monyet.
Perjalanan dari Pasar Terapung ke Pulau Kembang berjarak sekitar 15
menit, cuaca sudah cukup terang sehingga kami dapat melihat pemandangan
sepanjang sungai yang di tepinya terdapat hutan-hutan, perkebunan, maupun
permukiman. Sungai cukup ramai dilayari perahu, klotok serta juga kapal.
Sampailah kami di pulau tersebut , namun kami tidak merapat, hanya melihat
banyak monyet-monyet yang berkeliaran. Kami juga melihat beberapa perahu dengan
wisatawan yang merapat di Pulau tersebut
dan dikelilingi oleh para monyet yang kelihatannya sangat senang dikunjungi
oleh para “saudaranya” atau manusia.
Memang kalau merapat di pulau tersebut kayaknya kita
harus siap dengan oleh-oleh untuk “saudara” berupa makanan dan lain-lain. Juga
harus hati-hati jangan sampai barang-barang seperti dompet, tas , termasuk juga
yang ada di dalam klotok diobar-abrik mereka
![]() |
| Sunrise di pulau Kembang |
![]() |
| Monyet monyet |
Puas melihat pemandangan Pulau Kembang dengan tingkah laku monyet-monyetnya,
kami kembali ke “dermaga” di tepi sungai Kuin, yaitu pada lokasi Mesjid Sultan
Suriansyah. Waktu telah menunjukkan
pukul 08.30 dan cuaca sangat cerah, kami dapat lebih mengagumi bentuk
arsitektur Mesjid bersejarah tersebut. Selanjutnya
kami kembali ke mobil dan bergerak menuju restoran Soto Banjar yang terletak
dekat Jembatan Barito. Lokasi di tepi
Sungai Barito tersebut sangat ramai dengan para pengunjung. Termasuk juga
rombongan wisatawan yang merapat dengan klotok, yang tadinya juga mengunjungi
pasar terapung.
----------------------------------------------





Tidak ada komentar:
Posting Komentar