Total Tayangan Halaman

Selasa, 14 Juli 2015

WISATA SINGKAT BANJARMASIN

Kota Banjarmasin, adalah ibu kota Propinsi Kalimantan Selatan. Sedang Banjarbaru adalah kota baru yang didirikan dan direncanakan sebagai Pusat Pemerintah Propinsi Kalimantan Selatan. Dari status pemerintahan, kota Banjarbaru adalah salah satu kota dari 13 kota/ kabupaten yang ada di Propinsi Kalimantan Selatan.  Saat ini umumnya kantor-kantor pemerintahan propinsi telah berlokasi di Banjarbaru, sedang Pusat Perdagangan dan Bisnis lebih banyak di Banjarmasin. Kota Banjarmasin dikenal sebagai “Kota Seribu Sungai” karena terdapat sedikitnya 25 buah delta (pulau-pulau kecil yang dipisahkan oleh sungai-sungai).
Berikut adalah pengalaman kami mengunjungi beberapa objek wisata di Banjarmasin dan Banjarbaru.
Perjalanan ke Banjarmasin dimulai dengan take-off dari Bandara Sukarno-Hatta Cengkareng pada pukul 06.00 WIB , dengan  waktu  perjalanan  90 menit, maka kami landing di Bandara Syamsudin  Noor menjelang pukul 09.00 Wita. Lokasi Bandara Syamsudin Noor sendiri terletak di Banjarbaru yang berjarak sekitar 25 km dari Banjarmasin.
Mesjid Sultan Suriansyah
Perjalanan kami dimulai dengan berangkat dari Banjarbaru tempat kami menginap pada pukul 04.00 dinihari, mengingat salah satu objek wisata terkenal yang akan kami kunjungi adalah pasar terapung yang kegiatannya dimulai sejak pukul  05.00 pagi dan mulai akan berangsur sepi pada pukul 07.00 pagi.
Setelah perjalanan dengan mobil selama sekitar 30 menit, kami tiba di mesjid Sultan Suriansyah yang berlokasi di tepi sungai Kuin.  Mesjid tersebut mempunyai bangunan yang berarsitektur tradisional Banjar dan dibangun oleh Sultan Suriansyah (1526 -1550), dan merupakan salah satu mesjid yang tertua di Banjarmasin.
Pada tepian Sungai Kuin di sekitar lokasi Mesjid tersebut banyak terdapat pangkalan atau dermaga Klotok (perahu mesin) yang dapat disewa untuk perjalanan menyusuri sungai di sekitar kota Banjarmasin.  Saat tiba di mesjid tersebut tepat berkumandang azan subuh, dan kamipun sholat subuh dan langsung naik Klotok memulai perjalanan menyusuri Sungai
Masjid Sultan Suriansyah
Pasar Terapung
Hari masih gelap, menjelang pukul lima pagi, ketika Klotok yang kami sewa bergerak sepanjang Sungai menuju lokasi Pasar Terapung. Namun ternyata selain kami cukup banyak juga Klotok-klotok lain yang disewa oleh wisatawan sama-sama bergerak dari  “dermaga-dermaga” di sekitar lokasi tersebut  menuju ke Pasar Terapung.  Pemandangan menelusuri sungai cukup menarik dengan pemandangan kota yang masih gelap, serta berseliwerannya Klotok,  perahu, bahkan kapal yang berlayar di Sungai , dengan lampu yang masih dinyalakan.
Sekitar pukul 5.30 kami tiba di lokasi pasar terapung. Disana telah cukup banyak para pedagang dan pembeli yang berseliweran dengan perahu-perahu kecil , serta klotok berbagai ukuran. Barang-barang yang diperdagangkan bervariasi mulai dari hasil bumi, sayuran, buah-buahan, serta makanan-makanan, termasuk makanan dan minuman matang.  Keadaan di pasar terapung tersebut lebih meriah dengan berseliwerannya klotok-klotok yang disewa oleh para wisatawan, dengan berbagai ukuran , mulai klotok ukuran kecil  dengan penumpang sekitar 7-8 orang, sampai ukuran besar yang ditumpangi sampai puluhan orang
Pasar terapung
Perahu Klotok berseliweran


Pulau Kembang, Hunian Kerajaan Kera
Pukul 06.30 cuaca mulai terang dan sebagian para pedagang dan pembeli mulai meninggalkan  lokasi Pasar Terapung.  Para pedagang tersebut berangkat menuju daerah-daerah sepanjang sungai untuk melanjutkan perdagangannya, sehingga  biasanya setelah jam 7.30 keramaian Pasar Terapung akan berkurang. Demikian juga Klotok-klotok para wisatawan mulai bergerak  ke tempat lain. Dalam perjalanan kembali ke dermaga di dekan mesjid Sultan Suriansyah,  melewati sebuah Pulau  yang dikenal sebagai Pulau Kembang.  Pulau Kembang terkenal karena pada pulau tersebut terdapat ribuan ekor monyet.
Perjalanan dari Pasar Terapung ke Pulau Kembang berjarak sekitar 15 menit, cuaca sudah cukup terang sehingga kami dapat melihat pemandangan sepanjang sungai yang di tepinya terdapat hutan-hutan, perkebunan, maupun permukiman. Sungai cukup ramai dilayari perahu, klotok serta juga kapal. Sampailah kami di pulau tersebut , namun kami tidak merapat, hanya melihat banyak monyet-monyet yang berkeliaran. Kami juga melihat beberapa perahu dengan wisatawan yang merapat di Pulau  tersebut dan dikelilingi oleh para monyet yang kelihatannya sangat senang dikunjungi oleh para “saudaranya” atau manusia.
Memang  kalau merapat di pulau tersebut kayaknya kita harus siap dengan oleh-oleh untuk “saudara” berupa makanan dan lain-lain. Juga harus hati-hati jangan sampai barang-barang seperti dompet, tas , termasuk juga yang ada di dalam klotok diobar-abrik mereka


Sunrise di pulau Kembang


Monyet monyet
Kuliner Soto Banjar
Puas melihat pemandangan Pulau Kembang dengan tingkah laku monyet-monyetnya, kami kembali ke “dermaga” di tepi sungai Kuin, yaitu pada lokasi Mesjid Sultan Suriansyah. Waktu  telah menunjukkan pukul 08.30 dan cuaca sangat cerah, kami dapat lebih mengagumi bentuk arsitektur Mesjid bersejarah tersebut.  Selanjutnya kami kembali ke mobil dan bergerak menuju restoran Soto Banjar yang terletak dekat Jembatan Barito.  Lokasi di tepi Sungai Barito tersebut sangat ramai dengan para pengunjung. Termasuk juga rombongan wisatawan yang merapat dengan klotok, yang tadinya juga mengunjungi pasar terapung.
----------------------------------------------